SALAHKAH JIKA SAYA JUJUR TENTANG CHAIDIR RITONGA ?

admin 09/03/2012 2
SALAHKAH JIKA SAYA JUJUR TENTANG CHAIDIR RITONGA ?

by Riza Fakhrumi Tahir ·
PADANGSIDIMPUAN, adalah satu-satunya daerah di Sumatera Utara yang melaksanakan Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) tahun ini. Banyak teman yang bertanya, siapa jago Partai GOLKAR yang akan diusung menjadi calon Walikota Padangsidimpuan (PSP) ? Sulit saya menjawabnya, karena memang sampai hari ini Golkar belum memutuskan Calon Walikota/Wakil Walikota PSP. Kalau saya jawab, nanti dibilang saya mendahului keputusan partai atau malah berfihak kepada seseorang. Kalau tidak dijawab, masyarakat ternanti-nanti, malah mereka bisa menganggap Golkar lambat bersikap.
Ketimbang tidak ada bahan diskusi, saya justru balik bertanya kepada mereka yang bertanya, “kalau Chaidir Ritonga, bagaimana menurut kalian ?”
“Cocoklah, bang. Chaidir punya kematangan emosional dan intelektual. Ini modal penting untuk menjadi seorang pemimpin.” Ada yang mengatakan, “ini memang saat yang tepat bagi Chaidir. Dia pernah beberapa kali kalah dalam Pilkada di Tapsel dan PSP. Kekalahan masa lalu, pasti ada hikmahnya. Chaidir pasti mengambil pelajaran penting dari kegagalan masa lalu. Saya yakin, Chaidir mampu menjawab tantangan masa depan di Pilkada mendatang.” Ada juga yang bertanya, “apa Chaidir akan didukung Golkar?”.
Yang paling sulit saya menjawab, ketika seorang teman mengatakan saya balik gagang dari memusuhi Chaidir menjadi pendukung Chaidir. “Bang Riza, kan dulu perang dengan Chaidir. Koq, sekarang sepertinya mendukung Chaidir. Ada apa, ni bang. Nanti, orang menilai abang plintat plintut, pragmatis.”
Saya hanya menjawab, “itulah resiko kejujuran dan keikhlasan.” Pada saat tertentu kita harus berbeda jalan dengan orang lain, tapi pada saat berlainan kita bisa saja berada di jalan yang sama. Ada saat orang menyukai dan memuji – muji kita, ada pula saat orang membenci dan memusuhi kita. Guru mengaji saya mendidik saya tentang pentingnya kejujuran dan keikhlasan.
Kejujuran dan keikhlasan, memang mahal harganya. Tidak banyak orang yang mau menerima resiko sebuah kejujuran dan keikhlasan, karena orang hanya berfikir singkat dan sempit tentang apa yang terjelek yang bakal terjadi pada diri dan keluarganya. Orang jujur dan ikhlas, terkadang dinilai sebagai orang bodoh. Itu juga sebuah resiko.
Saya bukan tidak tahu dan tidak faham, kejujuran dan keikhlasan yang saya bangun itu, berada di tengah belantara ketidakjujuran dan ketidakikhlasan. Silahkan orang mengeksplor kejujuran dan keikhlasan saya dalam memperjuangkan sesuatu.
Itulah yang terjadi antara saya dengan Chaidir. Beda jalan antara saya dengan Chaidir karena kejujuran saya dalam menilai sesuatu, yang menurut saya tidak pas. Sehingga kesannya saya “perang” dengan Chadir. Sekarang, saya juga menilai Chaidir dengan kejujuran dan keikhlasan. Kalau dinilai saya mendukung Chaidir Ritonga sebagai Walikota PSP, boleh jadi itu karena kejujuran saya. Sebaliknya, kalau saya tidak mendukung Chaidir sebagai Calon Walikota PSP, itu juga karena kejujuran saya.
Salahkah kalau saya harus jujur tentang Chaidir Ritonga ? Siapakah yang berhak menilai bahwa saya salah atau benar ?
Ada saat saya harus beda jalan dengan Chaidir. Ada pula saat saya harus berada di jalan yang sama. Terhadap siapa saja saya seperti itu. Saya enggak perduli apa kata orang, meskipun banyak juga teman dan guru — guru engingatkan agar saya mengubah gaya dan sikap. Saya hanya rakyat kecil, tidak ada yang bisa saya andalkan, kecuali kejujuran dan keikhlasan. Saya tidak punya harta dan jabatan yang bisa dibanggakan, kecuali konsistensi dalam kejujuran dan keikhlasan.
Apa yang saya dapatkan dari sikap seperti itu ? Tidak ada, karena yang saya butuhkan hanya reward dari ALLAH yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, Maha Kuasa, Maha Berkehendak.
Chaidir Ritonga adalah Wakil Ketua DPD Partai GOLKAR Sumut, saat ini menjabat Wakil Ketua DPDR Sumut. Lulus dari IPB, kemudian dia sekolah di program paska sarjana USU. Sekarang dia kandidat doktor. Chaidir pernah mencalonkan diri pada Pilkada Tapsel dan PSP, beberapa tahun lalu. Pada Pilpres 2004, saya dan Chaidir berada di satu gerbong mendukung pasangan Capres – Wapres SBY – JK. Kami sama – sama dipecat dari anggota Golkar. Ketika Golkar mencalonkan dia sebagai Pimpinan DPRD Sumut hasil Pemilu 2009, saya keberatan dan protes. Itulah sebabnya, ada teman yang mengatakan, saya dulu “perang” dengan Chaidir.
Dari sejumlah nama yang muncul, hanya Chaidir yang sangat saya kenal secara mendalam. Dengan pengalaman dan kualifikasi yang dimiliki, Chaidir memang sudah saatnya dia mencalonkan diri sebagai Walkot PSP. Kegagalan masa lalu, boleh jadi kesuksesan yang tertunda. Apakah Chaidir didukung Golkar atau tidak, kita lihat saja dalam beberapa waktu mendatang. Tidak lama lagi. (RFT – Medan, 8 Maret 2012).

2 Comments »

  1. Batu Bara 12/03/2012 at 06:35 - Reply

    kalau semua teman mau jujur dan ikhlas seperti bang riza, maka semua teman tersebut pasti akan mengakui bahwa chaidir adalah teman yang baik dan mengayomi atas kepentingan yang lebih besar.

    Semua teman tahu bahwa mulkan ritonga yang kini bisa duduk di DPRD Sumut salah satunya adalah hasil perjuangan Chaidir Ritonga, karena sebetulnya waktu sidang MK waktu itu, KPU di posisi yang lain, namun karena desakan Chaidir Ritonga, maka KPU bersedia tuk menghitung ulang dan membukanya di Sidang MK. Kalau seandainya KPU tidak bersedia menghitung ulang, cukup data yang ada saja di buka di MK maka tentu kursi Golkar hanya 12 bukan 13 seperti sekarang.

    Itulah Chaidir Ritonga, walau secara pribadi berseberangan dengan Mulkan Ritonga sejak sebelum pemilu, ketika pemilu bahkan sekarang sama sama sebagai agt DPRD Sumut, namun atas kepentingan yang lebih besar, Chaidir Ritonga memperjuangkan secara sangat intensif.

  2. admin 12/03/2012 at 06:46 - Reply

    Kalau semua teman mau jujur dan ikhlas seperti bang riza, maka semua teman pasti akan mengakui kalau Chaidir Ritonga adalah teman yang baik dan mengayomi untuk kepentingan yang lebih besar.
    Tidak banyak orang tahu, bahwa Chaidir Ritonga dengan Mulkan Ritonga berseberangan telah cukup lama bahkan sebelum Pemilu 2009, namun karena kepentingan yang lebih besar, Chaidir Ritonga mau bersusah payah memperjuangkan Mulkan Ritonga untuk duduk di DPRD Sumut, Padahal waktu itu, di Sidang MK sebenarnya KPU pada posisi tidak akan menghitung ulang data namun hanya akan membuka data yang ada saja di sidang MK. Namun karena desakan Chaidir Ritonga yang cukup intens maka KPU akhirnya bersedia menghitung ulang dan membuka data hasil hitung ulang tersebut di sidang MK, dan hasilnya Kursi Golkar di DPRD Sumut jadi 13 dan Mulkan Ritonga menggantikan calon terpilih dari Demokrat.
    Itulah Chaidir Ritonga, bila mau jujur dan ikhlas, maka semua musuh akan mengatakan bahwa Chaidir Ritonga sebenarnya orang yang baik dan penting untuk Partai.

Leave A Response »

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com